“Sekarang kita harus benar-benar mengadakan pembagian pekerjaan. Kau bersama anak – anak harus tinggal dirumah saja. Kau cukup terdidik dalam pergerakan nasional, sehingga kau pasti mengerti konsekuensi dari Proklamasi hari ini. Kalau sampai aku tidak pulang, kau tahu apa yang harus kau kerjakan. Semoga kita semua selamat”.
Demikian Pesan Sudiro Sekretaris Pribadi Achmad Subardjo kepada istrinya menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia seperti dicatat dalam 𝘚𝘦𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘗𝘳𝘰𝘬𝘭𝘢𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘒𝘦𝘮𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘢𝘯 : 𝘒𝘦𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪𝘢𝘯, 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘑𝘦𝘱𝘢𝘯𝘨 ( 2015:73)
Pesan ini tentu tidak bermaksud menempatkan perempuan pada sudut yang tidak memiliki arti atau peran dalam perjuangan mewujudkan Kemerdekaan, pula bukan untuk menempatkan perempuan hanya pada wilayah domestik ( dapur, kasur dan sumur), namun pesan ini menyiratkan akan makna dan harga yang dibayar untuk sebuah perjuangan dan dalam semangat perjuangan itu perempuan memiliki peran penting.
Perjuangan menuju Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semata diisi oleh peran dan tokoh laki – laki seperti Bung Karno, Bung Hatta, Diponegoro, Thomas Matulessy namun juga diisi oleh tokoh – tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien dari Aceh, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Rasuna Said dari Sumatera Barat dan Christina Martha Tiahahu dari Maluku. Tokoh – tokoh perempuan ini turun langsung dalam medan peran diwilayah masing – masing.
Peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya di situ, dibalik pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih menjelang detik – detik Proklamasi, Fatmawati istri Soekarno menjahit Bendera Pusaka Merah Putih menggunakan mesin jahit tangan, ia mengoperasikan mesin tersebut hanya dengan tangan karena sedang hamil tua ( Guntur Soekarno Putra) dan dilarang dokter menginjak pedal mesin dengan kaki.
Ada pula S.K Trimurti merupakan istri Sayuti Melik ( yang mengetik naskah proklamasi untuk dibacakan ). Trimurtihadir sebagai tokoh penggerak dan wartawan yang berperan aktif mengamankan serta menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan.
𝙎𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙋𝙖𝙩𝙧𝙞𝙤𝙩𝙞𝙨𝙢𝙚 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙟𝙪𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙨𝙖.
Dari populasi 228,3 juta penduduk bangsa Indonesia, Perempuan berjumlah 142.816.997 jiwa, itu berarti selisih dengan jumlah jiwa laki – laki berkisar 2,68 juta jiwa.
Dalam situasi berbangsa dan bernegara hari ini, perempuan tidak lagi mengangkat senjata dan turun dalam medan perang penuh nyala api, namun peran perempuan harus dinyalakan dalam ruang- ruang 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣, 𝙆𝙚𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙀𝙠𝙤𝙣𝙤𝙢𝙞, 𝙋𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙪𝙗𝙡𝙞𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙍𝙪𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙢𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙜𝙚𝙣𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨.
Merdeka diartikan sebagai kebebasan berpendapat tanpa takut menerima ancaman maupun diskriminasi. Merdeka juga berarti memiliki kebebasan menentukan masa depan tanpa harus ada paksaan dari orang lain. Perjuangan Perempuan di era 45, menjadi spirit perempuan Indonesia masa kini untuk menggunakan hak yang sama sebagai manusia.
Hak Pendidikan, setiap perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan pendidikan setinggi – tingginya, setara tanpa diskriminasi gender.
Hak dalam Ruang Publik dan Politik, perempuan berhak memilik dan dipilih dalam proses demokrasi, perumusan dan kebijakan pemerintah hingga implementasinya Hak Perkerjaan. Perempuan Indonesia memiliki hak dan kesempatan, fasilitas, tunjangan, upah hingga posisi yang strategis
Berdasarkan Data Statistik per tahun 2025 menyebutkan Perempuan Indonesia diruang Eksekutif berada pada angka 17% hingga 29% posisi kepemimpinan strategis, baik di birokrasi, pemerintah maupun swasta.Berbeda pada ruang Legislatif, keterwakilan Perempuan Indonesia periode 2024-2029 mencapai 21,9 % atau 127-130 kursi pada tingkatan pusat. Angka ini menujukan kemajuan namun masih perlu ditingkatkan hingga mencapai kuota 30% Sedangkan di ruang Yudikatif, secara kuantitatif perempuan ada pada kisaran 28-29% namun dalam posisi kepemimpinan masih kisaran 21-24%.
Kehadiran perempuan dalam berbagai bidang memberi arti mendalam Perempuan adalah pelopor peradaban yang terus memberi nilai dan makna dalam setiap perjuangan. Perempuan menjadi penggerak utama perubahan sosial, pendidikan, ekonomi dan nilai – nilai moral di masyarakat.
𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙋𝙚𝙧𝙖𝙮𝙖𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙟𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙧𝙙𝙚𝙠𝙖𝙖𝙣 𝙍𝙚𝙥𝙪𝙗𝙡𝙞𝙠 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, 𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙧𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙋𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙤𝙣𝙩𝙤𝙣 𝙎𝙚𝙟𝙖𝙧𝙖𝙝, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨𝙣𝙮𝙖.
Eltin Tanalepy, A.Md.,S.AP Aktivis Perempuan Maluku (Sekretaris DPD KNPI Provinsi Maluku 2018-2021)



















