AMBON, TANASE.ID – Kota Ambon mencatat sejarah baru bagi perjalanan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Untuk pertama kalinya, Maluku dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ICMI melalui pencanangan Muktamar VIII ICMI Tahun 2026.
Pencanangan dilakukan Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., bersamaan dengan peresmian Sekretariat Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI Maluku di Jalan Soa Bali, Kelurahan Silale, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Ir. Sadali Ie, M.Si., IPU, pengurus ICMI, akademisi, tokoh agama, serta sejumlah tamu undangan.
Dalam sambutannya, Arif Satria mengatakan berbagai persoalan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan masyarakat perlu membangun ekosistem kolaboratif.
Menurutnya, kolaborasi dibutuhkan agar transformasi ekonomi tidak berjalan sendiri, melainkan seiring dengan transformasi sosial dan teknologi.
“Saat ini dibutuhkan ekosistem kolaboratif untuk memecahkan berbagai persoalan agar transformasi ekonomi bersanding dengan transformasi sosial. Apa yang kita lakukan harus benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam,” kata Arif.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu berharap kerja sama antara Pemerintah Provinsi Maluku, BRIN, perguruan tinggi, dan ICMI semakin diperkuat. Apalagi, daerah nantinya didorong memiliki Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta rumah inovasi.
Rumah inovasi tersebut diharapkan menjadi ruang bagi perguruan tinggi dan berbagai elemen masyarakat untuk menghasilkan terobosan yang dapat menjawab kebutuhan daerah.
“Inovasi-inovasi dapat dibangun oleh perguruan tinggi untuk transformasi masyarakat. Transformasi ekonomi, sosial, dan teknologi harus berjalan beriringan agar cita-cita menciptakan Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur dapat terwujud,” ujarnya.
Arif juga menyampaikan apresiasi kepada MPW ICMI Maluku yang dinilai telah siap menyelenggarakan Muktamar VIII ICMI. Ia berharap momentum bersejarah tersebut tidak hanya sukses secara seremonial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini pertama kalinya Muktamar ICMI diselenggarakan di Maluku. Semoga acaranya berjalan sukses dan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Arif menegaskan bahwa kecendekiawanan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan maupun gelar akademik. Seorang cendekiawan, kata dia, harus memiliki kepedulian, kebijaksanaan, dan orientasi terhadap kepentingan masyarakat.
“Kecendekiawanan bukan hanya soal otak pintar, tetapi kombinasi antara otak dan hati. Banyak orang yang gelarnya tidak tinggi, tetapi memiliki kematangan intelektual dan kebijaksanaan yang kuat,” tegasnya.
Menurut Arif, peran cendekiawan semakin penting di tengah perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan perkembangan teknologi global. ICMI diharapkan menjadi sumber inspirasi sekaligus mendampingi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kesadaran baru.
Salah satu tugas penting tersebut ialah meningkatkan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mencontohkan penggunaan Automatic Weather Station (AWS) oleh perguruan tinggi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta lembaga lainnya untuk menghasilkan perkiraan cuaca yang lebih akurat.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai menjadi contoh bagaimana pengetahuan ilmiah dapat membantu masyarakat meninggalkan kebiasaan lama dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie, berharap sekretariat baru MPW ICMI Maluku menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus rumah besar bagi para cendekiawan Muslim.
“Rumah baru berarti semangat baru. Kami berharap sekretariat ini dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh pengurus, badan otonom, dan kader muda ICMI untuk berdiskusi serta berkarya,” ujar Sadali.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Maluku terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk ICMI, untuk mewujudkan transformasi Maluku yang maju, adil, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai organisasi yang menghimpun para cendekiawan Muslim, ICMI dinilai memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan kontribusi pemikiran terhadap kebijakan pembangunan.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar,” katanya.
Sadali menyebut ICMI sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, nilai-nilai keagamaan yang moderat, serta kemaslahatan masyarakat.
Ia juga meminta perhatian dan dukungan Ketua Umum MPP ICMI dalam kapasitasnya sebagai Kepala BRIN untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Maluku.
Sebagai provinsi kepulauan, lanjut Sadali, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjawab keterbatasan geografis sekaligus mengoptimalkan potensi daerah.



















