AMBON, TANASE.ID – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai narasi di media sosial yang berpotensi merusak persaudaraan, persatuan dan kehidupan bersama di Kota Ambon.
Hal itu disampaikan Bodewin saat memberikan sambutan pada kegiatan Dialog Kebangsaan “Bacarita Kota Ambon: For Ambon Pung Bae” yang diselenggarakan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease di Hotel Santika Ambon, Selasa, 11 Agustus 2026.

Bodewin mengatakan, masyarakat saat ini menghadapi tantangan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di tengah perkembangan digitalisasi dan arus informasi yang semakin cepat.
Menurutnya, kemajuan teknologi apabila tidak dikelola dengan baik dapat mengikis rasa persaudaraan, rasa kebangsaan, bahkan merusak tatanan kehidupan yang selama ini telah diwariskan oleh para pendiri bangsa dan leluhur Maluku.
“Era digitalisasi hari ini, perkembangan zaman yang semakin modern, kalau tidak kita kelola dan jaga dengan baik, bisa mengikis rasa persaudaraan, rasa kebangsaan dan merusak tatanan kehidupan yang telah dibangun dan diwariskan oleh para pendiri bangsa serta orang-orang tua kita,” kata Bodewin.
Ia menilai, masyarakat Maluku memiliki warisan nilai persaudaraan yang sangat kuat, seperti pela gandong, falsafah potong di kuku rasa di daging, serta sagu salempeng patah dua.
Namun, nilai-nilai tersebut tidak boleh hanya terus digaungkan dalam bentuk slogan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Nilai-nilai itu tetap hidup dan terus digaungkan, tetapi mesti menyentuh perilaku kita sebagai anak-anak bangsa yang ada di kota ini,” ujarnya.
Bodewin mengatakan, masyarakat tidak boleh terus melihat perbedaan berdasarkan agama, suku maupun latar belakang kelompok.
Jika cara berpikir seperti itu terus dipertahankan, menurut dia, kehidupan bersama sebagai warga Kota Ambon akan sulit dibangun secara harmonis.
Karena itu, dialog kebangsaan dinilai penting untuk terus dilakukan guna mengingatkan seluruh elemen masyarakat bahwa menjaga kebersamaan merupakan tanggung jawab bersama.
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗽𝗿𝗼𝘃𝗼𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗦𝗲𝗴𝗲𝗹𝗶𝗻𝘁𝗶𝗿 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗠𝗲𝗱𝘀𝗼𝘀
Dalam kesempatan itu, Bodewin turut menyinggung adanya pernyataan bernuansa rasisme di media sosial yang sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Ia meminta masyarakat tidak membiarkan pernyataan segelintir orang di dunia maya menggoyahkan rasa persaudaraan maupun rasa kebangsaan orang Ambon dan Maluku.
“Kenapa kita harus pusing dengan cuma dua orang yang bicara rasisme di media sosial? Dua orang saja jangan sampai membuat kita begitu gelisah, resah, putus asa, lalu merasa kita bukan bagian dari Indonesia,” tegasnya.
Menurut Bodewin, provokasi seperti itu justru harus dijadikan pemicu untuk menunjukkan bahwa masyarakat Ambon memiliki ketahanan sosial yang kuat.
“Yang paling penting adalah itu menjadi pemicu untuk menunjukkan jati diri Ambon bahwa Ambon ini baik. Ketahanan kita sebagai warga kota mesti kuat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa ancaman di ruang digital tidak hanya berupa narasi rasisme, tetapi juga informasi bohong, provokasi hingga berbagai paham yang dapat masuk melalui media sosial.
Karena itu, masyarakat diminta semakin bijak menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗔𝗺𝗯𝗼𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁
Bodewin kemudian menyampaikan tiga hal yang menurutnya penting dalam menjaga masa depan Kota Ambon.
Pertama, masyarakat harus menjadikan sejarah panjang Ambon sebagai sumber kebanggaan sekaligus spirit untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Ia mengingatkan bahwa banyak tokoh dan pahlawan asal Maluku yang telah memberikan pengorbanan besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Sejarah bukan saja menjadi sesuatu yang membanggakan kita, tetapi mesti menjadi spirit supaya kita yakin dan percaya bahwa kita punya kontribusi besar bagi bangsa dan negara,” katanya.
Menurut Bodewin, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada nostalgia masa lalu.
Masyarakat harus menjadikan sejarah sebagai motivasi untuk melakukan hal-hal baik di masa kini.
“Kita tidak bisa terlena dengan sejarah masa lalu. Sejarah mesti menjadi penyemangat bagi kita untuk mencari dan melakukan yang terbaik hari ini,” ujarnya.
𝗝𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗶𝗸
Hal kedua, Bodewin mengajak seluruh masyarakat menjadi pelaku sejarah yang baik melalui tanggung jawab masing-masing.
Pemerintah, katanya, harus bekerja dengan benar, sementara masyarakat harus ikut menaati aturan dan memberikan kontribusi bagi pembangunan kota.
“Kalau bisa berkontribusi untuk kebaikan kota ini, jangan justru merusak kota ini. Kalau pemerintah sementara berupaya menjaga keberagaman, jangan jadi provokator,” tegasnya.
Ia menilai, orang yang sengaja menciptakan kekacauan dan merusak kehidupan bersama justru akan menjadi beban dalam sejarah Kota Ambon.
“Orang yang bikin kacau dan bikin rusak itu menjadi beban bagi sejarah kota ini, bukan menjadi pelaku sejarah yang baik,” katanya.
𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮
Bodewin juga meminta mahasiswa, pemuda dan masyarakat tetap menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.
Namun, kritik harus disampaikan secara etis, elegan dan berdasarkan data serta fakta.
“Kalau pemimpin di kota atau provinsi ini bekerja belum maksimal, ingatkan dengan etis. Mengkritisi dan menginterupsi sangat baik, tetapi caranya juga harus baik dan elegan,” ujarnya.
Menurutnya, informasi yang belum terverifikasi dapat mempengaruhi kehidupan bersama dan menimbulkan kegaduhan apabila dimainkan di ruang publik.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menghakimi seseorang hanya berdasarkan informasi yang belum terbukti.
“Ungkapkan data dan fakta. Banyak informasi hari-hari ini belum tentu benar, tetapi sudah mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan bersama,” katanya.
Jika terdapat dugaan pelanggaran yang didukung fakta, Bodewin mempersilakan masyarakat melaporkannya kepada aparat penegak hukum sesuai mekanisme yang berlaku.
𝗪𝗮𝗿𝗶𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗺𝗯𝗼𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗶𝗸
Hal ketiga, Bodewin mengatakan generasi saat ini bertanggung jawab meninggalkan warisan yang baik bagi anak cucu di masa mendatang.
Menurutnya, para pahlawan dan leluhur telah mewariskan persatuan, persaudaraan dan berbagai nilai kehidupan kepada generasi sekarang.
Karena itu, masyarakat hari ini juga harus melakukan hal yang sama untuk generasi berikutnya.
“Kalau masa lalu kita baik, masa kini kita berkontribusi baik, maka kita bertanggung jawab mewariskan yang baik kepada anak cucu kita di kemudian hari,” ujarnya.
Warisan tersebut, kata Bodewin, bukan hanya soal menjaga persatuan dan keberagaman, tetapi juga menjaga lingkungan serta memastikan Kota Ambon tetap nyaman dan layak dinikmati generasi mendatang.
𝗣𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗔𝘁𝗮𝘀 𝗞𝗲𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗹𝗼𝗺𝗽𝗼𝗸
Bodewin menegaskan bahwa kebijakan Pemerintah Kota Ambon harus diarahkan untuk kepentingan seluruh masyarakat tanpa membedakan agama, kelompok maupun latar belakang.
“Siapa yang membutuhkan intervensi pemerintah, ke situlah pemerintah pergi tanpa membedakan apa pun latar belakang masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap Dialog Kebangsaan “For Ambon Pung Bae” melahirkan kesamaan cara berpikir bahwa persatuan, kesatuan dan kebersamaan harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Kita masing-masing punya kepentingan pribadi, masing-masing punya kepentingan kelompok. Tapi kalau bicara soal kebangsaan, semua itu harus kita taruh di belakang. Kebersamaan, persatuan dan kesatuan itu di atas segala-galanya,” pungkas Bodewin.



















