TANASE.ID, AMBON – Kader muda Partai Golkar tidak cukup hanya bermodal semangat dan keberanian berorganisasi. Mereka dituntut memiliki kompetensi, integritas, serta kemampuan membaca persoalan masyarakat untuk menghadirkan perubahan yang nyata.
Pesan itu ditegaskan Ketua DPD Partai Golkar Kota Ambon, Ely Toisutta, saat membawakan materi Penguatan Kepemimpinan Teknokratik dalam Membentuk Kader Muda yang Profesional, Visioner, Inovatif, dan Berorientasi pada Solusi, dalam kegiatan Diklat Kader Muda dan Pelantikan AMPG Provinsi Maluku Tahun 2026, Jumat (6/11).
Ely menilai, perubahan zaman menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Masyarakat semakin cerdas dan kritis, sementara persoalan ekonomi digital, ketahanan pangan, perubahan iklim, pelayanan publik, hingga lapangan kerja tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika politik.
Karena itu, menurut Ely, kepemimpinan teknokratik menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Kepemimpinan harus dibangun di atas data, ilmu pengetahuan, dan keahlian, tetapi tetap berpijak pada nilai, etika, serta keberpihakan kepada rakyat.
“Teknokrasi tanpa hati menjadi dingin dan jauh dari rakyat. Politik tanpa kompetensi menjadi riuh, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita membutuhkan perpaduan keduanya,” demikian penekanan Ely dalam materi tersebut.
Ia menjelaskan, kepemimpinan teknokratik bertumpu pada tiga pilar utama, yakni data dan keahlian, inovasi dan solusi, serta integritas dan kolaborasi. Ketiganya menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang tidak hanya mampu memahami persoalan, tetapi juga menentukan langkah penyelesaian secara tepat.
Dalam konteks AMPG, Ely menempatkan kader muda sebagai motor penggerak perubahan dan pembangunan bangsa. Kader diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap organisasi, melainkan tampil mengawal aspirasi masyarakat, mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat, menghadirkan inovasi, serta memperkuat regenerasi kepemimpinan.
Untuk itu, kader muda didorong meningkatkan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, menguasai teknologi dan informasi, membangun pola pikir strategis, serta berani merancang program yang menjawab kebutuhan masyarakat. Kehadiran kader di tengah masyarakat juga menjadi penting untuk mendengar aspirasi, memahami persoalan, dan menawarkan solusi.
Ely turut mengingatkan bahwa orientasi kader tidak boleh berhenti pada ambisi mengejar jabatan. Kemampuan, integritas, dan pengabdian harus menjadi modal utama dalam membangun kepemimpinan.
“Jangan hanya mengejar jabatan, bangunlah kemampuan. Jangan hanya berbicara tentang perubahan, jadilah pelaku perubahan. Jangan hanya mengkritik persoalan, hadirkan solusi,” menjadi pesan Ely kepada kader muda.
Ia berharap AMPG menjadi ruang pengabdian, pembelajaran, dan kepemimpinan bagi generasi muda Partai Golkar. Melalui penguatan kompetensi dan integritas, kader muda diharapkan mampu tampil sebagai pemimpin yang profesional, inovatif, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi Ely, masa depan organisasi dan pembangunan bangsa membutuhkan generasi yang tidak hanya berani tampil, tetapi juga mampu bekerja, memahami persoalan, dan menghadirkan solusi.