*Oleh: Hendrik Jauhari Oratmangun, Pendiri Forum Jong Indonesia*
Dalam politik, memilih seorang Wakil Presiden bukan semata-mata soal kapasitas personal, popularitas, atau representasi partai politik. Lebih dari itu, diperlukan kalkulasi strategis untuk menjaga stabilitas pemerintahan, keseimbangan koalisi, dan keberlanjutan kepemimpinan nasional.
Jika suatu saat terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dan Prabowo harus mencari pengganti Gibran Rakabuming Raka, maka menurut hemat saya, salah satu nama yang paling layak dipertimbangkan adalah *Hatta Rajasa.*
Mengapa Hatta Rajasa?
Ada beberapa pertimbangan politik yang menurut saya menjadikan mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tersebut sebagai opsi yang relatif paling aman bagi Prabowo.
*Pertama, memiliki sejarah politik bersama Prabowo.*
Hatta Rajasa bukan figur baru dalam perjalanan politik Prabowo. Keduanya pernah berpasangan dalam Pilpres 2014. Artinya, sudah ada rekam jejak kerja sama, komunikasi, dan pengalaman politik bersama yang dapat menjadi modal penting dalam membangun kembali kemitraan di pemerintahan.
*Kedua, berasal dari PAN, partai yang konsisten mendukung Prabowo.*
PAN memiliki rekam jejak panjang dalam perjalanan politik Prabowo. Karena itu, mengakomodasi figur dari PAN dapat menjadi pilihan yang relatif mudah dalam menjaga hubungan politik dan keseimbangan koalisi.
*Ketiga, relatif minim potensi rivalitas politik menuju 2029.*
Ini menjadi salah satu pertimbangan paling strategis. Prabowo tentu membutuhkan seorang Wakil Presiden yang mampu membantu menjalankan pemerintahan, bukan justru menjadi pusat gravitasi politik baru yang berpotensi melahirkan persaingan kepemimpinan menjelang Pilpres 2029.
Dibandingkan sejumlah nama lain seperti AHY, Bahlil Lahadalia, Zulkifli Hasan, Puan Maharani, maupun Pramono Anung, Hatta Rajasa relatif tidak membawa beban kompetisi elektoral yang sama.
*Keempat, memiliki pengalaman dan kapasitas di bidang ekonomi.*
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tantangan geopolitik, tekanan fiskal, serta kebutuhan memperkuat investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, Prabowo membutuhkan pendamping yang memahami persoalan ekonomi secara komprehensif.
Pengalaman Hatta Rajasa sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menjadi modal yang patut diperhitungkan.
*Kelima, berpotensi menjadi figur kompromi bagi kekuatan koalisi.*
Dalam pemerintahan yang ditopang banyak partai politik, figur kompromi sering kali lebih dibutuhkan daripada figur yang terlalu dominan secara politik.
Hatta Rajasa dapat menjadi pilihan yang relatif bisa diterima oleh Gerindra, PAN, Demokrat, Golkar, dan partai-partai lainnya, meskipun tentu tetap membutuhkan komunikasi serta kesepakatan politik.
Politik Bukan Sekadar Siapa yang Paling Kuat, tetapi Siapa yang Paling Tepat
Saya melihat bahwa setiap nama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
AHY memiliki kekuatan politik dan potensi kepemimpinan nasional. Bahlil memiliki representasi Golkar dan pengalaman pemerintahan. Zulkifli Hasan memiliki kedekatan politik dengan Prabowo. Sementara Puan Maharani dan Pramono Anung dapat menjadi bagian dari kalkulasi apabila PDIP masuk lebih jauh ke dalam pemerintahan.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah Prabowo membutuhkan Wakil Presiden yang berpotensi menjadi pesaing politiknya pada 2029, atau seorang pendamping yang mampu menjaga stabilitas pemerintahan dan memastikan seluruh agenda strategisnya berjalan?
Menurut saya, dalam situasi tersebut, Hatta Rajasa merupakan salah satu opsi paling rasional.
Prabowo membutuhkan mitra yang berpengalaman, memahami pemerintahan, mampu membaca dinamika ekonomi, memiliki kedekatan politik, serta tidak menciptakan kompetisi kepemimpinan yang tidak perlu.
*Pada akhirnya, Wakil Presiden bukan sekadar jabatan untuk membagi kekuasaan, melainkan posisi strategis untuk memastikan pemerintahan berjalan efektif dan stabil.*
Jika ukuran utamanya adalah kepentingan Prabowo, stabilitas koalisi, dan keberlanjutan pemerintahan hingga 2029, maka Hatta Rajasa layak masuk dalam daftar teratas.
*Hatta Rajasa mungkin bukan nama yang paling gaduh dalam percaturan politik hari ini, tetapi justru di situlah letak nilai strategisnya: pengalaman, kedewasaan politik, dan potensi menjadi pilihan kompromi. (...)

Dengarkan Berita Ini
TANASE AUDIO · Pembaca berita otomatis
Tekan Putar untuk mendengarkan judul dan isi berita.



