SALATIGA, TANASE.ID – Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, mengajak masyarakat Maluku di perantauan menjadikan semangat perjuangan Kapitan Pattimura sebagai kekuatan untuk menjaga persatuan, mempererat persaudaraan, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Ajakan tersebut disampaikan Ely Toisutta saat menghadiri perayaan Hari Pattimura ke-209 Tahun 2026 yang berlangsung di Balairung Utama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Kota Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu, 1 Agustus 2026

Dalam sambutannya, Ely menegaskan bahwa peringatan Hari Pattimura bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah. Momentum tersebut harus dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali semangat perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan persatuan yang diwariskan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura.
“Dua ratus sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1817, Thomas Matulessy yang kemudian dikenal sebagai Kapitan Pattimura, bersama rakyat Maluku dari berbagai negeri, latar belakang, agama, dan suku, berdiri bersama melawan penindasan kolonial,” ujar Ely.
Menurutnya, perjuangan Pattimura tidak hanya ditujukan bagi kepentingan Maluku, tetapi merupakan perjuangan untuk martabat manusia, harga diri bangsa, serta bagian penting dari sejarah panjang lahirnya Indonesia yang merdeka.

Pattimura, kata Ely, telah membuktikan bahwa kekuatan terbesar tidak hanya terletak pada senjata, tetapi pada persatuan rakyat. Semangat tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa saat ini.Perayaan Hari Pattimura ke-209 mengusung tema “Tahuri Babunyi, Obor Menyala Tinggi, Parang Pattimura Manari Voor Bangun NKRI.”
Ely menjelaskan, Tahuri Babunyi menjadi simbol panggilan kepada seluruh anak negeri untuk bersatu. Sementara obor yang menyala tinggi melambangkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam dan harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
Adapun makna Parang Pattimura Manari, lanjutnya, bukanlah simbol peperangan, melainkan lambang keberanian, keteguhan hati, keadilan, dan kesiapan membela nilai-nilai kebenaran.
“Parang yang menari adalah semangat yang terus bergerak, menginspirasi, dan menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Jaga Persaudaraan di Tanah RantauEly juga mengapresiasi pelaksanaan perayaan Hari Pattimura di Kota Salatiga, yang dikenal sebagai kota toleransi dan mampu merawat keberagaman sebagai kekuatan.
Menurutnya, pertemuan masyarakat Maluku dengan masyarakat Salatiga menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan mampu melampaui batas geografis.
Walaupun terpisah ribuan kilometer dari Kota Ambon dan tanah Maluku, kecintaan masyarakat Maluku di perantauan terhadap kampung halaman tetap hidup. Namun, kecintaan terhadap Maluku tidak boleh mengurangi kecintaan kepada Indonesia.
“Menjadi orang Maluku berarti menjadi penjaga persatuan Indonesia,” tegasnya.
Nilai-nilai lokal Maluku seperti pela gandong, hidop orang basudara, dan saling topang dalam keberagaman, menurut Ely, merupakan warisan budaya yang tetap relevan untuk memperkokoh persaudaraan antarwarga bangsa.
Ia mengajak masyarakat Maluku, khususnya yang berada di Kota Salatiga, untuk menjadi teladan dalam menjaga kerukunan dan menjadi penggerak pembangunan di daerah tempat mereka mengabdi.
“Kehadiran masyarakat Maluku di berbagai daerah hendaknya menjadi jembatan persaudaraan, bukan menjadi sumber konflik atau perpecahan,” pesannya.
Generasi Muda Diminta Jaga Budaya MalukuDalam sambutannya, Ely turut menyoroti tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Tantangan tersebut tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan ancaman terhadap persatuan bangsa, penyebaran hoaks, intoleransi, radikalisme, penyalahgunaan teknologi, degradasi moral, serta ketimpangan sosial.
Karena itu, perjuangan generasi masa kini harus diarahkan untuk memperkuat persatuan nasional, meningkatkan kualitas pendidikan, membangun ekonomi yang berkeadilan, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat karakter generasi muda yang berlandaskan Pancasila.
“Semangat Pattimura harus diterjemahkan menjadi semangat membangun, bukan memecah belah. Semangat Pattimura adalah semangat bekerja, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Kepada generasi muda Maluku, Ely berpesan agar menjadi generasi yang cerdas dalam ilmu pengetahuan, unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, rendah hati dalam pergaulan, serta bangga terhadap identitas budaya Maluku.
Generasi muda juga diminta terus memelihara bahasa daerah, seni, musik, tari, kuliner, adat istiadat, dan seluruh kekayaan budaya Maluku sebagai bagian dari identitas nasional Indonesia.
“Mari kita wariskan kepada anak cucu kita bukan hanya cerita tentang Pattimura, tetapi juga teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai perjuangannya,” katanya.
Atas nama Pemerintah Kota Ambon, Ely menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kota Salatiga, Ikatan Keluarga Maluku, panitia, serta seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut dalam semangat persaudaraan.
Ia berharap kebersamaan masyarakat Maluku dan masyarakat Jawa Tengah semakin mempererat hubungan, memperkuat rasa saling memiliki sebagai sesama anak bangsa, serta menjadi jembatan persaudaraan dalam bingkai NKRI.
“Tahuri tetap babunyi, obor tetap menyala, semangat Pattimura tetap hidup, orang basudara tetap bersatu, Indonesia tetap jaya,” pungkas Ely.

















